Sabtu, 27 Juni 2015

Tersesat



adakah rindu sedemikian memadat
saat kau-aku tak lagi lekat
betapa jarak yang kian mengikat
o, kalbu yang likat
jejalan yang penuh riwayat
kabut resah menggeliat
begitu erat begitu dekat begitu rekat

biarkan aku tersesat
di belantara hatimu yang pekat!

Tangerang, 27 Juni 2015 (E)

Surat Dari Pesisir




bagaimana kabarmu?
tidakkah kau lihat serpihan ombak di mataku
begitu tabah menanti kenangan itu
membentuk barisan karang, waktu ke waktu
selebihnya adalah pantai-pantai yang lepas di dadaku
memuara pada palung takdir nan piatu

sungguh, takkan kubiarkan badai menerpamu
menghapus namaku dari ceruk hatimu

Tangerang, 25 Juni 2015 (E)

Kartu Pos Dari Selatan


mercusuar itu masih tegak berdiri
di antara karang-karang sunyi
camar yang menukik sesekali
menghela pekatnya kabut di samudra sepi
pada debur ombak yang gemuruh
ada isyarat angin yang diteriakkan riuh
sebelum genap terbaca matahari
dan menikam sepenuh nyeri

Tangerang, 24 Juni 2015

Surat Cinta



membaca surat cintamu
hatiku pendar mawar
huruf-huruf menjelma debar
gemuruh memukul kalbu

jadi seperti inikah rindu?
waktu yang merambat sahdu
seperti cerita kemesraan yang belum tuntas
ditumpahkan pada secarik kertas
menjadi sekeping kenangan
yang entah sampai kapan

membaca huruf-huruf dalam surat cintamu
ada jeda yang mengikat namamu, dan namaku
sebab kau adalah kebahagiaan yang tak pernah memejam
tempat segala rindu dan doaku bersemayam

Tangerang, 22 Juni 2015 (E)

Sabtu, 20 Juni 2015

Di Stasiun Kereta



: MIT

duduk sendiri di stasiun kereta
menanti seseorang entah siapa
awal perjalanan yang sempurna
diakhiri dengan nganga luka
segerbong harapan yang sia-sia
seperti dua rel kereta
tak bertemu meski kerap bersama

kereta melaju dalam waktu
kita pun berselisih arah tuju
kau sibuk mengangkat koper ke utara
sedang aku gagal membunuh rindu di tenggara
tidak, jangan menangis
hidup memang tak selalu berwajah manis
kadang memar, kadang pula bengis
demikianlah ragam kenang yang tergaris

Tangerang, 19 Juni 2015