Jumat, 29 Juli 2016

Jaranan*


kaki-kaki lentik menjejak bumi
mengentak-entak dalam kibasan cemeti
ialah pasukan berkuda yang gagah berani

iringan musik yang begitu ritmis
selaras dengan gerakan yang dinamis
sungguh nilai tradisi yang sangat historis

sembilan penari dengan balutan kaca mata hitam
memijak bersama alunan musik yang berdentam
menyatu seiring takdir alam

Tangerang, 2 Juni 2016

*Jaranan adalah nama tarian tradisional dari Jawa Timur

Mengejar Kunang-Kunang



malam telah demikian larut
kau terus saja mengejar kunang-kunang
kau ikuti ke mana terbang
ke bukit, ke lembah, ke laut
menyusuri jalan kampung yang lengang

kampung yang menyimpan kenangan
pada masa kecil yang kerap kau rindukan
pada pesisir, juga ombak di lautan
pada pepohonan yang terlelap hening
memendam segala kecemasan yang berdenting

lalu kau menjelma kunang-kunang itu
beterbangan menepis mei yang ragu
karena batas karena jarak karena waktu

Tangerang, 30 Mei 2016

Spasi


yang berkhianat di antara waktu
huruf-huruf berlari menemu titik tuju
renggang di antara baris yang satu
menuju persinggahan itu
mungkin juga tak berakhir di situ

namun jarak, seperti nyanyian musim
mei yang menyeru-nyeru dengan intim
meminta perihal kenangan yang berguguran
seperti ingatan tentang kepedihan
yang terus menerus dijatuhkan

di mataku, juga matamu
selalu ada jeda yang senantiasa mengetuk pintu
mencemaskan segala yang kelak berlalu
seperti deretan usia
yang merambat cepat pada ruang sela

muasal dari segala

Tangerang, 29 Mei 2016 (E)

Nyanyian Balam


kerinduan senantiasa mengapung
di luas semesta yang penuh mendung
ketika nyanyian balam mengisyaratkan petang
selepas sajak bertebaran di ujung pematang

aku kembali menafsir kata per kata
meski bibirmu tak mengucap sepatah pun
kesalahan demi kesalahan yang sama
memuncak di ambang nyeri kegagalan
antara diam dan keheningan yang tiba-tiba

tegak berdiri di sebelah bayangmu
maka, adakah luka yang lebih dari ngilu
ketika almanak di dinding hanya membisu
telah putus segala harapku

menyeru namamu

Tangerang, 27 Mei 2016 (E)

Dewi Anggraini




telah kujalani sebaris takdir
sebagai istri dari Prabu Ekalaya yang sangat mahir
bermain panah tanpa berguru pada Resi Drona
yang memiliki Mustika Ampal sebagai cincin pusaka

telah kutepis cinta seorang Arjuna
ksatria gagah dari negeri Hastinapura
seorang Pandawa yang lahir dari Batara Indra
berparas tampan dan gemar berkelana

telah kukorbankan tubuhku
sebagai bakti setia pada suamiku
kulakukan bela pati demi kehormatan
untuk tetap teguh memegang kesetiaan

akulah putri apsari; bidadari Warsiki
namaku, Dewi Anggraini...

Tangerang, 23 Mei 2016

Sembadra



 
satu masa dalam silsilah dwaraka
ketika burisrawa tiba-tiba jatuh cinta
pada kecantikan seorang sembadra
didekatinya sang dewi dengan gembira
asmarandana yang menyebabkan petaka
hingga dilarungnya tubuh yang penuh pesona
dalam perahu di bengawan silungangga

kembang cangkok wijayakusuma pembawa kehidupan
dengan bekal tirta amerta bangkitlah kembali sembadra yang menawan
hanya bersama arjuna cintanya tertambat
meski harus menjadi permaisuri keempat
cinta memang tak mengenal terlambat
selamanya berkobar di dalam dada
akan tetap menyala walau tanpa mantra

Sepanjang Kedoya-Ciledug, 20 Mei 2016

Origami Burung Biru




: ATS

kautahu, lipatan burung biru yang kita buat dulu
masih tersimpan rapi di dalam laciku
seperti aku mengingat semestamu
yang kerap hadir dari waktu ke waktu

aku tahu, kau akan selalu di sana
meski hari-hari kelak tak lagi sama
dan aku akan tetap menyimpan lipatan burung biru
seperti dirimu yang selalu mengenang origami itu

Tangerang, 18 Mei 2016

Drupadi



ritual Putrakama Yadnya telah melahirkan api suci
menjadi putri dari seorang dewi
ia yang melindungi langkah-langkahnya dari kobaran api
yang kerap membakar ego dan hasrat diri

demi langit, demi bumi
ia pernah kukuh berjanji
tak akan menggelung ikal rambutnya
sebelum berkeramas dengan darah Dursasana

duhai Drupadi, putri agni
yang selalu menjaga kesetiaannya juga pemberani
jadilah selalu kembara cahaya
dalam setiap bulir doa-doa

Kedoya, 16 Mei 2016

Ketapang




serentang jalan ini pernah kita lalui
setahun yang lalu di awal juli
di bawah pohon ketapang, di sore hari

daun-daun ketapang berjejalan di ujung ranting
mengingatkanku pada sajakmu yang mengalir hening
jatuh di sudut jantungku berdenting-denting

kita adalah dua orang asing yang ditakdirkan
berselisih jalan menuju akhir perhentian
kubiarkan kau ke kiri, aku ke kanan

dan sepokok ketapang itu
menjadi penanda waktu
bahwa kita memang pernah bertemu, dulu

Tangerang, 14 Mei 2016 (E)