Kamis, 01 Mei 2014

Dermaga Penantian



 
telah kuterima gelombangmu
wahai lelaki dari seberang selat
bermantra ombak menderu
dan bermata seteduh langit

kubiarkan telukku bergemuruh
dalam hentakan-hentakan meluruh
diterpa badai kerinduanmu yang tak berkesudahan
terhempas di dermaga penantian

padamu kutitipkan kepingan hati
bersamamu kelak kulayari hari-hari

Tangerang, 17.03.2014

Sepotong Hati



 
sepotong hati mengulum luka
janji-janji tinggallah belaka
dilipatnya kerinduan dalam dada
dirahasiakannya air mata pada semesta

malam mengabut, menyimpan harap
disabar-sabarkannya diri agar setia
pada setiap kenangan yang menyergap
untuk tetap merawat harapan yang tersisa

segera dikhatamkannya doa-doa
pada segala pinta
pada semua cemas yang bertahta
hanya untuk satu nama

: kaukah itu kekasih?

Tangerang, 14.03.2014

Tentang Isyarat



 
pada satu kedipan yang telah hadir
diam-diam sebaris senyum terukir
sebut saja ini pendar-pendar

yang jejaknya terekam dalam ingatan
yang debarnya sepanjang kenangan
yang detaknya penuh kerinduan

katakanlah, mungkin ini isyarat hati
tentang sebuah janji
tentang ia yang berani menggapai mimpi

Tangerang, 13.03.2014

Kau Ajarkan Aku



 
kau ajarkan aku membaca rindu
meniti hari satu persatu
berharap, doa akan menjelma waktu

kau ajarkan aku mengaduk rindu
meraciknya dari dalam kalbu
tepikan sepenggal masa lalu

kini, kau ajarkan aku menelan empedu
dari rindu yang kau puja dulu
kenangan tinggallah debu

Kedoya, 11.03.2014

Luka Dan Air Mata



 
kau, luka yang mengalir
serupa pesisir
di pantai hati yang mendesir

kau, air mata yang tiba-tiba hadir
jatuh bergulir
di pipi kerinduan bernama takdir

kaulah, luka yang berurai air mata
menjadi duka
menjelma neraka!

Sepanjang Kedoya-Ciledug, 10.03.2014