Rabu, 01 April 2015

Empat Ratus Lima Puluh Satu


serimbun bunga-bunga musim yang bermekaran
segenap doa dan harap beterbangan ke selatan
ke dadamu yang penuh kehangatan
empat ratus lima puluh satu kilometer tertera pada peta perjalanan
tak ada jarak yang memisahkan
bahkan lonceng kerinduan terdengar gemerincing
memanggil-manggil begitu nyaring
barangkali jeda hanyalah takdir rahasia
meski di matamu, aku bukan sesiapa

Sepanjang Ciledug-Kedoya, 01/04/2015

Saat Kau Sakit


: Wulan

bulan tenggelam di balik awan
langit muram dilanda kecemasan
air mata tercurah seakan-akan
jatuh di pipiku sebagai hujan

Kamar Hati, 31 Maret 2015

Tembang Rindu Kembang Sepatu



kembang sepatu di halaman depan
mulai bermekaranapa kabarmu ingatan?
yang kini berdiam di tanah kenangan

tak ada lambai perpisahan
pun wangi pelukan
hanya wajahmu yang kerap berloncatan
dalam benakku yang serupa taman

senja terlalu cepat berlalu
meninggalkan goresan ungu
meninggalkan ranting kerinduanku
dan tembang rindu kembang sepatu

Tangerang, 30/03/2015

Nyanyian Bunga Kangkung


senyummu mengembang di antara rimbunan bunga kangkung
di sepanjang kali, tempat kanak-kanak bermain lempung
tak jauh dari sisi rel kereta api yang kian melengkung

bunga kangkung yang ungu
persis seperti rinduku yang termangu
terpaku dalam nyanyi bisu

inilah takdir yang diisyaratkan angin
meski jeda tak pernah diingin
kata-kata semakin menggigil: dingin

bunga kangkung yang ungu
yang kulihat di senja itu
mengingatkanku padamu, pada rinduku yang bertambah layu

Puri Beta, 27/03/2015

Ziarah Ingatan


kubunuhi tiap gambar yang telah kauberi tanda
ini senja ke berapa?
air mata menggenang di muka beranda
tak ada pesan, tak ada rupa
betapa waktu merambat kian terasa

siapakah yang telah mengisi hari-harimu?
langit kelabu
semesta murung dilanda sahdu
tak ada lagi ceritamu
sekuntum kamboja tertunduk layu

ini senja ke berapa?
kubentangkan kain putih di atas pusara
hanya ada sebaris aksara
yang sanggup kueja
namamu, pa...

Tangerang, 26 Maret 2015

Perjalanan Kenangan


aku ingin kembali ke masa lalu
menunggumu di beranda rumah siang itu
bersama, kita menghabiskan sepoci kata-kata
menerjemahkan hari-hari yang kerap bermuara
meniupkan ragam impian di dada
namun hidup bukan rekaman lagu
yang bisa diputar ulang sewaktu-waktu
kau telah jauh meninggalkanku
dan aku masih saja mengeja takdirku
memunguti kenangan satu persatu

dan yang hilang dari sebuah rindu
adalah namamu

Tangerang, 25/03/2015

Kemuning


kau lupa mengabarkan kepergianmu kepadaku
hingga harum kemuning di samping teras itu
yang kerap berjatuhan di atas batubatu
menyadarkanku akan kehilangan
telepon, secangkir kopi dan sepasang kenangan
telah terbawa angin
menuju jauh, ke celah ingatan

Tangerang, 24/03/2015