Sabtu, 03 Oktober 2015

Diam


diamlah diam kalbu yang gelisah
waktu yang kian beranjak resah
rekah dalam semesta rahasia
hidup yang tak lagi sempurna

diamlah diam jiwa yang retak
jarum jam yang riuh berdetak
memanggil-manggil dada yang sesak
tinggalkan bebayang jejak

diamlah diam wahai hati yang gaduh
ada yang tak hendak dibunuh
oleh tubuh yang semakin rapuh
biarkan saja luka yang mengaduh

Tangerang, 27092015

Waktu Yang Diam

diamdiam ia menepi
karena kepergian adalah kepedihan yang sunyi
berkalikali dibunuhnya debar hati
meski keinginan kerap tak mau mati
selebihnya hanya ada sepi

jika waktu dapat mengelabui jarum jam
dibiarkannya doadoa yang tak pernah khatam
percakapanpercakapan yang tenggelam
seperti ingatan yang ingin pergi dari masa silam
kemudian menghilang dalam diam

diamdiam ia pergi, tak lagi duduk di sini
tidakkah kau sadari?

Tangerang, 24092015

Perihal Rindu Yang Tak Usai



sebab empat-lima kali aku senantiasa mencoba
menyusurimu, di tepian samudra
adalah kegagalan demi kegagalan yang tertera
jauh sebelum kesiur sepi mendera
demikianlah betapa waktu tak pernah beranjak
hari ke hari semakin beranak-pinak

seperti badai tak kunjung usai
perihal rinduku yang tak mengenal kata selesai
meski tanganku bukan lagi gapai paling sampai

Tangerang, 23.09.2015

Dalam Tubuhku



dalam tubuhku mengalir jalan-jalan rindu
jalan yang berkelok penuh liku
yang terjal berbatu-batu

dadaku, tempat segala tertumpah
segala puja-puji dan sumpah serapah
saat waktu kehilangan arah

sepasang lengan yang erat menggenggam namamu
tercampak sia-sia dalam nyeri duka
berkubang tetes air mata

setelah kaulukis senja di punggungku
cerita apalagi yang akan kau gores di jantungku
sebagai luka dengan seribu ngilu?

Tangerang, 20 September 2015 (E)

Sepanjang Manggarai Hingga Tugu Tani



jalanan basah
mataku mengabut, resah
pertemuan melesak dalam ingatan
menemuimu di antara rahasia pelukan
ada yang gugur di meja perjamuan
janji-janji yang menghempas badai percakapan

malam tinggal separuh
secangkir kopi selesai diseduh
membendung segala yang bergemuruh
di luar, langit begitu fasih berarak
ada yang tak mampu digenapkan sajak
dekap kita yang diganjilkan jarak

Tangerang, 17.09.2015

Pasar Malam




berdiri di antara lampulampu neon yang menggantung
pijar cahayanya menerangi semua pengunjung
menyinari rahasia kalbu yang termangu bingung

kanakkanak gempita menari di sepanjang jalan
saat bulan terang dan angin saling bersapaan
separuh hati memendam rasa kehilangan

aneka gulagula kapas yang terkemas; legit
walaupun manis tapi tetap terasa pahit
semacam nyanyi kenangan yang paling sengit

seperti riuhnya pasar malam
pertemuan dan perpisahan kadang tanpa salam
hanya berakhir di langit kelam

Sepanjang Pasar Malam, 15 September 2015 (EP)