Selasa, 06 Desember 2016

Kasidah Kenangan


pada pagi yang selapang puisi, kita menyembunyikan kenangan
seperti guguran hujan yang jatuh di halaman
sepasang ingatan terlepas dari genggaman
dan waktu, kerap menyamar sebagai kesepian

tahun-tahun menjelma daun
bahkan saat mata kita paling rabun sekalipun
angin selalu tak sengaja meniupnya
merebahkannya dalam diam di pangkuan senja

masa kanak-kanak yang berlari riang
riuh berkejaran di tanah lapang
kita mencoba belajar mengemas ketabahan
melepaskan segala kesementaraan

saat kita mulai beranjak dewasa
musim mengalirkan beragam rasa
menuliskan inisial-inisial yang sulit dilupakan
karena kebahagiaan dan kesedihan pernah begitu memabukkan

Tangerang, 2 Desember 2016

Petik Laut*



dilarungnya sesaji pada laut
manik-manik mantra menyeruak dari mulut
kepala kerbau telah dihanyutkan
bunga-bunga pun bertebaran

diiringi alunan musik dan penari di atas perahu
meletuplah lidah gelombang
menelan doa-doa di antara karang
ritual yang tak akan lekang oleh waktu

mengharap segala berkah-rahmat
melestarikan tradisi dan adat

Tangerang, 26 November 2016

*Petik Laut adalah sebuah upacara adat atau ritual sebagai rasa syukur dan untuk memohon berkah rezeki serta keselamatan kepada Yang Maha Esa

Kidung Bulan




: Wulan

lilin-lilin menyala selepas hujan November
di antara deretan kelopak aster

aku mengingatnya seperti cahaya bulan
langit sempurna berpendaran

riwayat perjalanan mengukir mimpi
seperti doa-doa yang tak henti

saat kidung riang memecah kesunyian
almanak memberinya tanda; kelahiran

Tangerang, 25 November 2016

Sepucuk Surat Dengan Perangko Di Sudut Kanan Atas



kau tak pernah tahu, apa yang pernah ditulis pena
pada berlembar-lembar kertas di atas meja

hari-hari beralih, tumpah dalam cerita
kau mungkin takjub membaca apa yang termaktub di sana
kata demi kata mengalirkan ragam makna
setiap kali setiap waktu terjadi peristiwa

kau tak akan menduga, apa yang pernah tersimpan di tiap helainya
sebab itulah kenangan akan senantiasa terjaga

Tangerang, 24 November 2016|

Selasa, 22 November 2016

Bersamamu


 
duduk aku diam-diam di belakangmu
aku tak ingin mengganggu
atau membuyarkan konsentrasimu

duduk aku diam-diam bersamamu
melewati rumpunan pohon bamboo
dan rumah berpagar biru

duduk aku diam-diam seperti biasanya
melerai waktu tanpa tanya
sesekali memandang deretan bunga kana

duduk aku
diam-diam di belakangmu
tak lagi ragu

Tangerang, 22 November 2016

Kuping Gajah*, Sepenggal Kenang Yang Memudar


 
pada setiap kunyahan rasa
tergambar bayang wajah orang-orang tercinta
pada aroma tungku di pinggiran desa
pada bentang sawah di hadapan mata

betapa waktu berputar bebas
gigitan pertama, kenangan nenek terpampang jelas
gigitan kedua, ingatan tentang kakek tergores
gigitan selanjutnya, memori rumah kecil di balik gunung menerabas

ah, kenangan berlari tak terhenti
sepenggal ingatan tetap tersimpan di toples ini

Tangerang, 18 November 2016

*kuping gajah merupakan nama salah satu jenis kue tradisional