Rabu, 09 April 2014

Firasat Jiwa






Geliat hati yang biru
Hiasi sepanjang kalbu
Ungkapkan nyanyian rindu
Firasat jiwa, isyaratkan sesuatu
Ruang-ruang sepi menata waktu
Ombak senja memecah pantai ragu
Namamu mengekal dalam bilik ingatanku

Tangerang, 2 Maret 2014

* Puisi akrostik dengan tipografi berdasarkan nama

Percakapan Malam


 
dingin menggigit serupa jahanam
kau tanam resah dalam kelam
tentang percakapan kita
tentang sesuatu yang tak teraba

kau izinkan waktu menyetubuhi malam
menceritakan lukanya, menyinggahi kepingan silam

lalu kau tulis mantra di tubuh masa
mengharap tuhan menunda esok
agar dosa tak beranak-pinak
namun doa-doa tak pernah lekang dalam dada

Tangerang, 1 Maret 2014

Laut Mencatat Luka


laut mencatat luka-luka
menampung air mata
detik demi detik muara

ada yang diam-diam cemas
layu terhempas
ia yang melangkah, pergi dalam gegas

laut telah mencatat luka
pada satu paragraf cinta
pada ia yang ingin melupa

Kedoya, 26 Februari 2014

Minggu, 06 April 2014

Tentang Jarak



 
jutaan kata-kata yang tersimpan
pada dua ratus delapan halaman
tak mampu mengikat ingatan
tentang sebaris nama dalam lembar angan

terombang-ambing dalam sembilan ratus lima puluh dua hari
dan aku semakin gigil diterpa keresahan
betapa rindu semakin berlari
tinggalkan waktu bagai sederet igauan

kucoba menafsirkan seribu tiga ratus tujuh puluh sekian
dalam jarak kenangan demi kenangan
kesetian demi kesetian
adalah linangan tentang kesepian

Sepanjang Kedoya-Ciledug, 25 Februari 2014

Geliat Hati



 
senja rebah di matamu
jingga dalam peraduan waktu
adakah gores namaku
terpatri dalam degup rindu

saat lidahmu singgah di dadaku
punguti keruh satu persatu
kusimpan sesak dalam-dalam
berharap suatu hari kau paham

segala serpihan kenangan
dan semua gelisah yang meragu
kelak bermuara pada satu
: hatimu

Tangerang, 23 Februari 2