Rabu, 23 September 2015

Malam Ketujuh



malam retak berkalung sunyi
angin dingin menusuk setajam belati
telah kubawakan sajak yang berurai air mata
sebagai isyarat pertemuan yang tertunda
ketika kata rindu tertinggal sia-sia
ada perihal yang tak pernah selesai diutarakan
ratusan aksara yang berkelindan di ingatan
begitu gagap merayakan kepedihan
ini malam ketujuh
kenangan begitu riuh
menujumu yang kian jauh

Tangerang, 7 September 2015 (E)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar